![]() |
| Kondisi Anak Gunung Rinjani |
Bandara Ngurah Rai di Kabupaten
Badung, Bali, dibuka lagi pada Kamis sore, 5 November 2015. Bandara
tujuan utama destinasi wisata itu beroperasi lagi setelah ditutup sejak
Selasa, 3 November 2015, sebagai akibat letusan Gunung Barujari, anak
Gunung Rinjani, di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Pengoperasian lagi bandara itu karena arah angin ke selatan dan
barat daya pada Kamis siang. Itu artinya, debu vulkanik tak lagi
mengarah ke Bali sehingga tak membahayakan penerbangan dari dan menuju
Ngurah Rai.
Sebenarnya ada tiga bandara lain yang ikut ditutup akibat terdampak
letusan anak Rinjani, yaitu Bandara Internasional Lombok (Lombok Praya)
dan Bandara Selaparang di Lombok, NTB, serta Bandara Blimbingsari di
Banyuwangi, Jawa Timur. Hingga berita ini ditulis, dua bandara di NTB
masih ditutup. Bandara Blimbingsari -yang letaknya di sebelah barat
Bali- sudah dibuka pada Kamis siang.
Enam ribu penumpang
Bencana alam itu cukup mengganggu banyak penerbangan meski Bandara
Ngurah Rai hanya ditutup selama kurang tiga hari. PT Angkasa Pura I
merilis lebih 692 penerbangan dibatalkan akibat letusan gunung api itu.
Rinciannya, sebanyak 183 penerbangan kedatangan domestik, 189 penerangan
keberangkatan domestik, 157 penerbangan kedatangan internasional dan
163 keberangkatan internasional.
Jumlah penumpang yang batal berangkat sejak Selasa mencapai enam
ribu orang. Sebanyak empat ribu penumpang internasional dan dua ribu
penumpang domestik.
Satu di antara ribuan orang yang terdampak penutupan bandara itu
bahkan Wakil Presiden India, Mohammad Hamid Ansari, meski dia
menggunakan pesawat khusus alias bukan pesawat komersial. Hamid Ansari
berada di Bali untuk mengurus seorang warga negaranya, Rajendra Nikalje
alias Chota Rajan alias Kumar Mohan (56 tahun), buronan Interpol yang
ditangkap polisi Indonesia.
Tapi pesawat yang membawa Hamid Ansari dilaporkan sudah diizinkan
lepas landas tak lama setelah Bandara Ngurah Rai dinyatakan kembali
dibuka.
Otoritas Bandara Wilayah IV -yang mencakup Bandara Ngurah Rai-
mengakui banyak kerugian finansial akibat bandara ditutup selama tiga
hari. Tapi belum dihitung pasti tingkat kerugiannya karena masih
berfokus pada pelayanan calon penumpang yang tertunda atau batal
berangkat.
"Yang penting penumpang happy (gembira), tidak merasa terabaikan,
tidak terkomunikasikan (keluhan mereka)," kata Kepala Kantor Otoritas
Bandar Udara Wilayah IV, Yusfandri Gona,pada Kamis, 5 November 2015.
Menurut General Manajer PT Angkasa Pura I Bandara Ngurah Rai,
Trikora Harjo, pada dasarnya tak banyak kerugian finansial yang
ditimbulkan dari bencana itu. Soalnya sebagian besar calon penumpang
hanya mengubah jadwal keberangkatan, bukan membatalkan dan meminta ganti
kerugian.
Sebagian calon penumpang, terutama penerbangan tujuan Surabaya atau
sebaliknya, memilih membatalkan penerbangan dan meminta pengembalian
uang tiket, lalu memilih jalur darat. Tapi sebagian besar, termasuk
wisatawan asing, memilih tinggal di bandara atau memperpanjang menginap.
Turis asing yang akan ke Bali pun kebanyakan mengubah jadwal
keberangkatan.
Otoritas Bandara telah memfasilitasi calon penumpang domestik yang
membatalkan penerbangan, terutama mereka yang hendak menuju Surabaya.
Para calon penumpang itu diantarkan ke Terminal Ubung, Denpasar.
Sebagian besar calon penumpang bertujuan Surabaya berharap
melanjutkan penerbangan melalui Bandara Juanda di Surabaya ke beberapa
tujuan domestik lain, seperti Jakarta dan Makassar.
Industri pariwisata
Sektor yang paling terdampak penutupan bandara itu adalah industri
pariwisata. Banyak calon pelancong yang sudah memesan kamar hotel
terpaksa mengatur ulang liburan mereka. Imbasnya juga pada subsektor
lain, misalnya, restoran dan tempat-tempat hiburan di kawasan wisata di
Bali.
Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali, Ida Bagus
Ngurah Wijaya, berterus terang bahwa banyak kerugian karena bencana
itu. Tapi dia belum menerima laporan mendetail dan menghitung tingkat
kerugian finansial.
Dia membandingkan dengan peristiwa serupa akibat erupsi Gunung
Raung di ujung timur Jawa Timur selama Juli, Agustus, dan September
2015. Masa itu bertepatan dengan musim liburan dan Lebaran sehingga
lebih banyak permintaan terhadap perjalanan wisata, hotel, restoran, dan
lain-lain.
"Selama tiga bulan itu saja, kita kehilangan 30 persen dari kedatangan turis Australia," kata Ngurah Wijaya.
Dampak letusan Gunung Barujari pada industri wisata di Bali,
katanya, memang tak sedahsyat peristiwa serupa akibat Gunung Raung.
Selain karena penutupan bandara hanya beberapa hari, juga bukan musim
liburan. Tetapi tetap saja nilai kerugiannya tidak sedikit.
Ngurah Wijaya belum akan mengkalkulasi tingkat kerugian akibat
letusan Gunung Barujari karena aktivitas vulkanik gunung itu belum
selesai alias masih dimungkinkan mengganggu lalu lintas penerbangan.
"Nanti kita baru bisa berhitung secara keseluruhan ketika bencana ini
sudah selesai."
Dinas Pariwisata Kabupaten Badung sedari awal memperingatkan agar
penyedia akomodasi pariwisata tetap melayani para calon penumpang yang
terdampak bencana itu. Dinas mengakui, berdasarkan pengamatan pada
sejumlah hotel, memang banyak pembatalan atau penundaan pemesanan. Tapi
banyak juga hotel yang dipenuhi pengunjung, terutama calon penumpang
yang tertunda keberangkatannya.
Belum berakhir
Bandara Ngurah Rai dibuka lagi bukan karena aktivitas Gunung
Barujari sudah mereda, melainkan akibat embusan angin menjauh dari Bali.
Gunung api itu itu tetap memuntahkan material vulkanik berupa debu
meski ada pijar dan belum diketahui kapan mereda.
Menurut Pakar Geologi, Surono, memang kecil kemungkinan letusan
Gunung Barujari bakal sebesar erupsi Gunung Sinabung di Sumatera Utara.
Tapi aktivitasnya yang belum diketahui sampai kapan, berarti masih ada
peluang debu vulkaniknya mengganggu penerbangan di masa mendatang.
Abu vulkanik produk letusan Barujari-Rinjani, katanya, sangat halus
sehingga dapat tersebar jauh dan tergantung kecepatan serta arah angin.
Surono hanya menyarankan warga sekitar Gunung Barujari tidak panik.
Kawasan berbahaya hanya pada radius tiga kilometer dari gunung itu dan
selebihhnya cukup aman.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan
Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dan lembaga terkait
mengevaluasi aktivitas Gunung Barujari dan cuaca setiap enam jam. Hasil
evaluasi itu pasti dilaporkan kepada instansi terkait, termasuk bandara.
Berdasarkan data kegempaan yang terekam, tremor bergerak menerus
3.025 mm (dominan 6 mm). Gempa letusan terus terekam dan potensi letusan
masih tinggi. Namun, Surono menganalisis, "Dari data-data yang ada,
Gunung Barujari tidak akan meletus hebat."




Be the first to reply!
Post a Comment